Di sini kita bertemu, di sini kita bersatu, di sini kita berdarma bakti tanpa batas waktu. Selamat Datang di halaman Sanggar Pringgodani. -.. .. / ... .. -. .. / -.- .. - .- / -... . .-. - . -- ..- --..-- / -.. .. / ... .. -. .. / -.- .. - .- / -... . .-. ... .- - ..- --..-- / -.. .. / ... .. -. .. / -.- .. - .- / -... . .-. -.. .- .-. -- .- / -... .- -.- - .. / - .- -. .--. .- / -... .- - .- ... / .-- .- -.- - ..- .-.-.- / ... . .-.. .- -- .- - / -.. .- - .- -. --. / -.. .. / .... .- .-.. .- -- .- -. / ... .- -. --. --. .- .-. / .--. .-. .. -. --. --. --- -.. .- -. .. .-.-.-

Kamis, 28 Desember 2017

📢Siaran Pramuka di RRI Malang (Part 2)📡

🎹🎵Pringgadani - Santank Balung🎵🎹

Wauuuuw !! cerita pendek Kak Djoko AW dalam Siaran Pramuka di RRI Malang (Part 1), sempat membuat pikiran saya menerawang jauh pada 40 tahun yang lalu, dan walau hanya secuwil cerita tapi isinya mungkin  bisa memotifasi adik-adik Pramuka saat ini dan Pramuka masa depan. 
Memang saat itu saya (Uber Suhartono) dan Kak Djoko AW seringkali diminta Kak Bisri (selaku koordinator siaran Pramuka di RRI Malang) apabila beliau sedang sakit atau ada keperluan lain, maka untuk nggajuli (menggatikan peranya), kami berdua tidak bisa menolak dengan berbagai alasan, yang ada hanya kata Siaaap...!!!. Ini mungkin karena semboyan Dasa Darma ke-4 dan ke-9 sudah menyatu dalam jiwa kami.

Kalau sudah demikian saya dan Kak Djoko AW, juga beberapa kawan lainnya bergegas ke RRI. Sesampai disana kami menunggu para Pramuka yang mendapat giliran siaran, tapi kadangkala saat tiba waktu siaran, yang bertugas tidak hadir tanpa pemberitahuan sebelumnya. 

Tentu kami berdua sempat klabakan (endi enthong endi erus), padahal siaran Pramuka pk.16.00 tidak bisa ditunda, mengingat jadwal ini mungkin sudah ditunggu-tunggu para pendengar se antero Malang Raya.

Disinilah Dasa Darma ke 9 Bertanggung jawab dan dapat dipercaya merupakan suplemen bagi kami untuk semangat melaksanakan amanah almarhum. Okey kawan, kami berdua siap mengisi secara spontanitas tanpa persiapan apapun.

Perlu diketahui kami berdua sedikit ada bakat mbonyol (melawak) ala Kwartet S (pelawak senior di kota Malang pimpinan Pak Djati Kusuma), walaupun tidak terlalu lucu.

Dengan durasi 30 menit, waktu sekian menit bagi kami tampil di corong RRI terasa sangat panjang/lama, untung Kak Sonny Leksono pianis Pramuka ikut hadir bisa mengisi acara dengan pianonya disela-sela kami mbanyol (melawak).

Itu semua kami lakukan dengan penuh rasa tanggungjawab, dan ternyata ada hikmah yang kami petik, inilah titik awal munculnya dagelan Pramuka Kwarcab Kodya Malang, saya mendirikan kentrung modern Pringgadani, sedangkan Kak Djoko AW jadi juragan dagelan Santank Balung di Gugusdepan Pramuka di Rumah Sakit Tentara (RST) Soepraun di Sukun (sekarang jalan Sudancho Supriyadi) Kota Malang.

Sekecil apapun andil kami pada Gerakan Pramuka di era 70 - 90 ternyata tanpa kami sadari kami telah terjebur ke kawah Candradimuka,  disana kami digembleng, ditempa sehingga menjadi Pramuka (manusia) yang handal tahan bantingan, yang mempunyai pandangan ke masa depan. 

Tidak salah kalau Tuhan Yang Maha Kuasa berkenan memberikan hadiah kehidupan yang cukup, ini terbukti sekarang Kak Djoko AW di dhapuk menjadi orang nomor satu atau sebagai Rektor Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, sedangkan saya saat ini di dhapuk menjadi seorang kaliber (kakek lincah bersabar).

Keterangan Redaksi:
enthongsendok besar untuk ambil nasi
irus/erus : sendok besar untuk ambil sayur

Dituturkan oleh :
Kak Uber Suhartono (pelaku PW Aspac I 1978; aktifis Pramuka Malang Kodya; member Forum Pandu Ngalam)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar