Dalam kegiatan Perkemahan Wirakarya Asia Pasific I tahun 1978, Paman Gober (aku Uber Suhartono) dan tim, ditugaskan sebagai petugas PPPK dan bergabung dengan Palang Merah Remaja dari Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Malang, dimana tugasnya pada umumnya hanya memberikan pertolongan awal atau pertolongan pertama sebelum si penderita di tangani Paramedis dan Dokter, akan tetapi kali ini tugasnya justru lain, yang malah membuat tim harus spot jantung, jantung seakan meledak-ledak.
Begini ceritanya :
Disaat para Pramuka selesai melaksanakan Bhakti Sosial, sekian ratus Pramuka kembali ke tenda masing-masing, perjalanan pulang ke tenda harus melewati Jembatan Gantung yang terbuat dari bambu. Melewatinya harus bergantian, dengan harapan jembatan tidak ambruk/ambrol, akupun dengan tim petugas PPPK bersiap-siap di seberang jembatan, barangkali (kemungkinan) menemui hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Tidak lama aku jaga disana tiba-tiba terdengar suara byuurr !!!, semua yang di sekitar jembatan pada kaget, apa yang terjadi.....?
Tenyata anak yang katanya bernama Sholichin, terjebur kesungai semua terheran-heran melihat dari atas si Sholikin timbul tenggelam dengan ketawa-ketawa, aku menganggap bahwa dia terganggu jiwanya atau jiwanya sedang labil, melihat keadaan seperti itu maka Pembina yang dibantu Penegak yang lain menaikkan Solichin keatas dengan paksa. Kami tim PPPK sudah siap untuk menolong, kemudian dibawa dengan tandu ke pos. Sesampainya disana dia justru meronta-ronta dan berteriak "Aku ingin bertemu dengan Tuhan !!!" dengan pandangan mata nanar. Melihat hal semacam itu hati ini ciut juga. Aku tidak putus-putusnya berdo'a. Memohon perlindungan dan tuntuna-NYA.
2. KESURUPAN
Dari cerita penduduk setempat, dikatakan oleh mereka, bahwa lokasi untuk bhakti sosial adalah tempat angker, jadi tidak salah kalau si Sholichin kesurupan. Aku sebagai Ketua Tim PPPK seperti kebakaran jenggot, betapa tidak, dia makin berulah meminta bertemu Tuhan....., dengan nada keras dan marah, situasi seperti ini aku tidak habis²nya berdo'a dan berdo'a. Mohon perlindungan dan petunjuk untuk dapat mengatasinya, aku yakin dapat mengatasi, karena pada hakikatnya manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna, masak kalah dengan jin atau setan, inilah yang membuat aku se-akan² mendapat suplemen. Akhirnya aku dan dia terjadilah dialog.
Kedua tanganya aku pegang, seperti layaknya kedua orang yang sedang bersalaman.
"Siapa namamu ayo ngaku". kataku.
"Namaku Antonius, mau apa kamu" jawab dia (Solichin).
Aku baru sadar bahwa dia menyebut nama yang bukan namanya.
"Pulang kamu !!, tempatmu bukan disini, kalau kamu tidak mau pulang, akan aku siram mukamu dengan air ini", gertakku, dan kebetulan aku sudah siap dengan air putih ditangan.
Rupanya dengan aku gertak dia tidak takut, dia malah memandang dengan pandangan mata yang nyaris tinggal putih saja, aku sempat goyah, bingung, dalam situasi seperti ini hati kecil ini seperri berbicara _bawa dia ke gereja_demikian, aku jadi bertambah bingung, seumur-umur aku tidak pernah masuk gereja, tetapi apa boleh buat, kalau ini jalan terbaik dan dia bisa sadar tetap harus dilaksanakan. Kemudian dengan tandu dan kaki tangan diikat dia dibawa ke gereja ramai-ramai. Sesampainya di gereja dia dan para Pramuka lainya duduk di kursi jemaat, sedang aku berdiri di dekat mimbar layaknya pengkhotbah.
Kedua tanganya aku pegang, seperti layaknya kedua orang yang sedang bersalaman.
"Siapa namamu ayo ngaku". kataku.
"Namaku Antonius, mau apa kamu" jawab dia (Solichin).
Aku baru sadar bahwa dia menyebut nama yang bukan namanya.
"Pulang kamu !!, tempatmu bukan disini, kalau kamu tidak mau pulang, akan aku siram mukamu dengan air ini", gertakku, dan kebetulan aku sudah siap dengan air putih ditangan.
Rupanya dengan aku gertak dia tidak takut, dia malah memandang dengan pandangan mata yang nyaris tinggal putih saja, aku sempat goyah, bingung, dalam situasi seperti ini hati kecil ini seperri berbicara _bawa dia ke gereja_demikian, aku jadi bertambah bingung, seumur-umur aku tidak pernah masuk gereja, tetapi apa boleh buat, kalau ini jalan terbaik dan dia bisa sadar tetap harus dilaksanakan. Kemudian dengan tandu dan kaki tangan diikat dia dibawa ke gereja ramai-ramai. Sesampainya di gereja dia dan para Pramuka lainya duduk di kursi jemaat, sedang aku berdiri di dekat mimbar layaknya pengkhotbah.
3. DIIRINGI SIMFONI ALAM
Kemudian aku mulailah berceramah sesuai dengan kemampuan, untuk memberikan jawaban pada dia, bahwa pada hakikatnya semua umat di dunia mengakui ke Esaan Tuhan dan Utusan-Nya, dan semua hamba hukumnya wajib menyembah Tuhan sesuai dengan syariat agama masing-asing yang dianut. Semula dia padangan matanya nanar dan tampak bengis, tetapi kali ini dia menundukan kepala, se-akan setuju dengan ucapanku. Suasana saat itu terasa khitmad, dari luar terdengar angin sepoi-sepoi, menyusuri daun-daun niyur dan menghampiri rumpun bambu yang menimbulkan gesekan suara yang berderit, seakan-akan bagai symponi indah mengiring perjalanan anak manusia dalam mencari jati dirinya. Melihat gelagat seperti itu aku ceramahku terhenti, dan aku hampiri dia sambil mengulurkan tangan dan bertanya siapa namamu diapun menjawab dengan nada rendah namaku Sholichin .
Alamdulillah akhirnya dia sadar. Kemudian dia mengarahkan pandangan ke seluruh ruang gereja dan dia melihat simbol agama yang berada di dinding, dia bertanya Mengapa aku berada disini.... ?. Pertanyaan aku jawab Ceritanya panjang, sekarang kita kembali ketenda saja untuk istirahat.
Dan semua kembali ke tenda masing-masing.
Demikian cerita apa adanya, ternyata itu adalah awal adanya peserta PW. Aspac yang kesurupan, selama aku bertugas disana dua minggu peserta kesurupan yang aku tangani ada 12 (dua belas) orang peserta. Bahkan saat aku sedang pentas kesenian (peran dalang), di susul karena ada peserta yang sedang kesurupan, dan kontan saja walaupun pentas belum berakhir. Terpaksa harus aku sudahi, untuk menolong yang kesurupan.
Dituturkan oleh :
Kak Uber Suhartono (pelaku PW Aspac I 1978; aktifis Pramuka Malang Kodya; member Forum Pandu Ngalam)
Kemudian aku mulailah berceramah sesuai dengan kemampuan, untuk memberikan jawaban pada dia, bahwa pada hakikatnya semua umat di dunia mengakui ke Esaan Tuhan dan Utusan-Nya, dan semua hamba hukumnya wajib menyembah Tuhan sesuai dengan syariat agama masing-asing yang dianut. Semula dia padangan matanya nanar dan tampak bengis, tetapi kali ini dia menundukan kepala, se-akan setuju dengan ucapanku. Suasana saat itu terasa khitmad, dari luar terdengar angin sepoi-sepoi, menyusuri daun-daun niyur dan menghampiri rumpun bambu yang menimbulkan gesekan suara yang berderit, seakan-akan bagai symponi indah mengiring perjalanan anak manusia dalam mencari jati dirinya. Melihat gelagat seperti itu aku ceramahku terhenti, dan aku hampiri dia sambil mengulurkan tangan dan bertanya siapa namamu diapun menjawab dengan nada rendah namaku Sholichin .
Alamdulillah akhirnya dia sadar. Kemudian dia mengarahkan pandangan ke seluruh ruang gereja dan dia melihat simbol agama yang berada di dinding, dia bertanya Mengapa aku berada disini.... ?. Pertanyaan aku jawab Ceritanya panjang, sekarang kita kembali ketenda saja untuk istirahat.
Dan semua kembali ke tenda masing-masing.
Demikian cerita apa adanya, ternyata itu adalah awal adanya peserta PW. Aspac yang kesurupan, selama aku bertugas disana dua minggu peserta kesurupan yang aku tangani ada 12 (dua belas) orang peserta. Bahkan saat aku sedang pentas kesenian (peran dalang), di susul karena ada peserta yang sedang kesurupan, dan kontan saja walaupun pentas belum berakhir. Terpaksa harus aku sudahi, untuk menolong yang kesurupan.
Pengalaman pahit ini masih tergores dalam ingatan. Dari Desa Leakharjo arah ke timur bila malam tiba tampak lava Gunung Semeru meleh kebawah dan sungai Glidik yang melintas desa Lebakharjo jalan lahar dari gunung Semeru.
Dan ternyata konon ceritanya desa Lebakharjo tiap kali ada kegiatan Daerah, Nasional pasti hujan walaupun bukan musim hujan, dan ironisnya pasti ada peserta yang kesurupan, maaf ini bukan hoax (sumber cerita dari penduduk setempat). Bisa di tanyakan kepada mbah google.
Hal ini di kaitkan daerah itu adalah desa terisolir sejak awal desa itu ada, puluhan tahun, setelah dipilih sebagai lokasi (event) tingkat dunia, banyak pohon-pohon besar yang ditebang potong, (mungkinkah ini yang menjadi penyebab...? katanya pohon-pohon itulah yang menjadi tempat makhluk halus). Wallahualam bisawab.
Sehubungan dengan hal diatas, pada hakikatnya merupakan pembelajaran buat aku dan teman-teman lainya, dan ternyata itu semua menjadikan dorongan semangat kita untuk lebih meningkatkan iman dan taqwa.
Itupun kalau aku dihubung-hubungkan dengan pengalamanku yang menangani selama dua minggu ada 12 orang Pramuka kesurupan, sampai-sampai aku mendapat gelar DUKUN, saksinya ada, beliau anggota grup Forum Aktifis Pandu Ngalam Kak. Nenny Sukarti. Sebutan itu membuat aku malu, rasanya aku saat itu ingin lari melepas tanggung jawab, aku emoh disebut dukun apalagi menjadi dukun, tetapi mungkin. Dwi Dhama saat aku masih Siaga sudah mendarah daging ...? Siaga itu berani dan tak putus asa.
Percaya gak percaya aku ngetik mrinding. Tetapi aku yakin suatu saat nanti desa Lebakharjo menjadi desa indah dan asri "Gemah-ripah loh jinawe", jauh dari gangguan hal² diatas, penduduknya sejahtera dan guyub rukun._.
Semoga dan semoga.
Aamin Ya Robaal alamin




Tidak ada komentar:
Posting Komentar