Di sini kita bertemu, di sini kita bersatu, di sini kita berdarma bakti tanpa batas waktu. Selamat Datang di halaman Sanggar Pringgodani. -.. .. / ... .. -. .. / -.- .. - .- / -... . .-. - . -- ..- --..-- / -.. .. / ... .. -. .. / -.- .. - .- / -... . .-. ... .- - ..- --..-- / -.. .. / ... .. -. .. / -.- .. - .- / -... . .-. -.. .- .-. -- .- / -... .- -.- - .. / - .- -. .--. .- / -... .- - .- ... / .-- .- -.- - ..- .-.-.- / ... . .-.. .- -- .- - / -.. .- - .- -. --. / -.. .. / .... .- .-.. .- -- .- -. / ... .- -. --. --. .- .-. / .--. .-. .. -. --. --. --- -.. .- -. .. .-.-.-

Jumat, 16 Mei 2025

KLINCIKU UCUL KARYA KI NARTO SABDO


Tokoh ini bernama Ki Narto Sabdo, seorang dalang termasyhur, beliau dilahirkan di Klaten Jawa Tengah tahun 1925 dan wafat di Semarang pada 7 Oktober 1985 (umur 60).

Dimana pertama kali beliau tampil sebagai dalang..? Ki Narto Sabdo muncul pertama kali di Jakarta, tepatnya di gedung Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer  (PTIK), yang disiarkan langsung RRI pada 28 April 1958. Penampilan perdana itu langsung mengangkat namanya. Lakon yang ia tampilkan saat itu adalah Kresna Duta. Pengalaman pertama mendalang tersebut sempat membuat Ki Narto panik di atas pentas karena pada saat itu pekerjaannya yang sesungguhnya ialah pengendang grup wayang orang Ngesti Pandowo, Ki Narto sejak remaja sudah menggemari para dalang ternama, seperti Ki Ngabehi Wignyosoetarno dari Sala dan Ki Poedjosoemarto dari Klaten. Ia juga tekun membaca berbagai buku tua. Kepala Studio RRI waktu itu, Sukiman menawari Ki Narto untuk mendalang, sehingga jadilah pertunjukan di PTIK tersebut.

Bungsu dari tujuh bersaudara yang lahir 25 Agustus 1925 di Krangkungan, Pandes, Kapanewon Wedi, Kabupaten Klaten, Kasunanan Surakarta. Nama kecilnya adalah Sunarto.  Dalam kreasi mengembangkan wayang, Sunarto mendapat tambahan gelar di belakang "Sabdo" gelar itu diterima sejak tahun 1948, sejak itu namanya dikenal "Narto Sabdo".

Didorong untuk memperkenalkan upaya pembaharuan serta didukung kejelian pulalah mendorong Narto Sabdo menggelar wayang semalam suntuk melalui corong radio.

Namun semangat pembaruan yang melampaui zamannya membuat Ki Narto Sabdo tak mudah diterima semua kalangan. Dalang mapan  dengan gaya konservatif menyebut Narto Sabdo "Berdosa" paling besar, dalam rusaknya seni pedalangan. Saat itulah muncul istilah "Dalang Edan".

Meski demikian tidak sedikit kalangan yang merespon positif semangat pembaharuan Ki Narto Sabdo. Tanpa pembaharuan, mesti masih berpegang pada pakem, karya-karya seni tradisi termasuk wayang, rawan tergilas oleh kehidupan modern.

"Masyarakat yang telah dihilangkan ingatan kolektif ini akan meninggalkan wayang, meninggalkan leluhur, meninggalkan bayangannya sendiri. Setelahnya mereka akan menyukai puak-puak kehidupan dalam komunikasi modern. Sepanjang karirnya Ki Narto Sabdo dikenal sebagai dalang, dan guru dalang.

Banyak dalang kenamaan, selanjutnya murid-murid yang dibimbing seperti Ki Manteb Sudarsono, Ki Mujoko, Ki Joko Raharjo, Nyi Suharni Sabdowati dan lain-lainnya, juga Jaya Suprana (pianis. komposer dan pewaris perusahaan Jamu Cap Jago atau dikenal sebagai Jamu Jago).

Ki Narto Sabdo juga dikenal luas sebagai dalang kesayangan Bung Karno. Pada masa itu ada tiga dalang kenamaan, yang menjadi langganan pentas di Istana Negara antara lain Ki Pujo Sumarto dari Klaten, Ki Bei Tarno dari Solo, dan Ki Narto Sabdo dari Semarang.

Selain berkarya dalam dunia pakeliran, juga berkarya sangat intent menciptakan gending-gending dan lagu Jawa, terutama yang sangat dikenal masyarakat adalah "Lagu Kelinciku Ucul". Ratusan karya Gendingnya abadi sampai saat ini.


Penampilan perdana itu langsung mengangkat nama Ki Narto. Berturut-turut ia mendapat kesempatan mendalang di Solo, Surabaya, Yogya, dan seterusnya. Lahir pula cerita-cerita gubahannya, seperti Dasa Griwa, Mustakaweni, Ismaya Maneges, Gatutkaca Sungging, Gatutkaca Wisuda, Arjuna Cinoba, Kresna Apus, dan Begawan Sendang Garba. Semua itu ia dapatkan karena banyak belajar sendiri, tidak seperti dalang lain yang pada umumnya lahir dari keturunan dalang pula, atau ada pula istilah dalang kewahyon (mendapat wahyu).

Karena sering mementaskan lakon carangan Ki Narto pun sering mendapat banyak kritik. Ia juga dianggap terlalu menyimpang dari pakem, antara lain berani menampilkan humor sebagai selingan dalam adegan keraton yang biasanya kaku dan formal. Namun kritikan-kritikan tersebut tidak membuatnya gentar, justru semakin banyak berkarya.

Ki Nartosabdo dapat dikatakan sebagai pembaharu dunia pedalangan pada tahun 80-an. Gebrakannya dalam memasukkan gending-gending ciptaannya membuat banyak dalang senior yang memojokkannya. Bahkan ada RRI di salah satu kota memboikot hasil karyanya. Meskipun demikian dukungan juga mengalir antara lain dari dalang-dalang muda yang menginginkan pembaharuan di mana seni wayang hendaknya lebih luwes dan tidak kaku.

Selain sebagai dalang ternama, Ki Narto juga dikenal sebagai pencipta lagu-lagu Jawa yang sangat produktif. Melalui grup karawitan bernama Condong Raos yang ia dirikan, lahir sekitar 319 buah judul lagu (lelagon) atau gendhing, antara lain Caping Gunung, Gambang Suling, Ibu Pertiwi, Klinciku Ucul, Prahu Layar, Ngundhuh Layangan, Aja Diplèroki, dan Rujak Jeruk.


Hingga sejauh ini Ki Narto Sabdo adalah dalang satu-satunya yang mendapat anugerah "Bintang Mahaputra Nararya" dari Pemerintah lndonesia, atas jasa-jasanya di bidang kebudayaan. Ki Narto Sabdo meninggal pada 7 Oktober 1985. Penghormatan yang dilakukan Pemkot Semarang, dengan mengabadikan namanya. Mochus Budi R yang menyadur Umar Kayam bagian akhir esai pada 24 tahun yang silam :

Kita adalah Masyarakat yang bergerak cepat, dan cukup dramatis, melepas isolasi-isolasi subkulturnya. Apakah wayang termasuk salah satu diantaranya"

Lagu Klinciku Ucul (karya Ki Nartosabdo) dinyanyikan oleh Deni Kristiani istri Deni Afriadi alias Percil pelawak asal Banyuwangi yang saat ini tinggal di Blitar, dan si bawah video adalah lirik lagunya:

Ngubengi kutho sateruse
ing ndeso ndeso
Mergo aku anggoleki
Sing tak tresnani
Kelinciku ucul

Lungo mengetan suroboyo
Terus nyang mbali
Mengulon lungo nyang mbandung
Ora ketemu
Terus aku nyang jakarta

Jebul ora ketemu
Adhuh kelinciku
Ojo mbedho aku
Terus bali nyang semarang
Kelinciku wus ono kandang

Lah jebulane grusa grusu
Keburu nepsu
Wekasane montang manting
Ragade akeh
Aku dhewe kang kebanting

Jebul ora ketemu
Adhuh kelinciku
Ojo mbedho aku
Terus bali nyang semarang
Kelinciku wus ono kandang

...

Ngubengi kutho sateruse
ing ndeso ndeso
Mergo aku anggoleki
Sing tak tresnani
Kelinciku ucul

Lungo mengetan suroboyo
Terus nyang mbali
Mengulon lungo nyang mbandung
Ora ketemu
Terus aku nyang jakarta

Jebul ora ketemu
Adhuh kelinciku
Ojo mbedho aku
Terus bali nyang semarang
Kelinciku wus ono kandang

Lah jebulane grusa grusu
Keburu nepsu
Wekasane montang manting
Ragade akeh
Aku dhewe kang kebanting

Jebul ora ketemu
Adhuh kelinciku
Ojo mbedho aku
Terus bali nyang semarang
Kelinciku wus ono kandang

 

ditulis oleh:

®..Paman Gober..®

Catatan :
  • kutipan dari https://www.detik.com/jateng/budaya/d-6153025/ki-nartosabdo-sang-pembaru-yang-pertama-sandang-gelar-dalang-edan
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Nartosabdo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar