Di sini kita bertemu, di sini kita bersatu, di sini kita berdarma bakti tanpa batas waktu. Selamat Datang di halaman Sanggar Pringgodani. -.. .. / ... .. -. .. / -.- .. - .- / -... . .-. - . -- ..- --..-- / -.. .. / ... .. -. .. / -.- .. - .- / -... . .-. ... .- - ..- --..-- / -.. .. / ... .. -. .. / -.- .. - .- / -... . .-. -.. .- .-. -- .- / -... .- -.- - .. / - .- -. .--. .- / -... .- - .- ... / .-- .- -.- - ..- .-.-.- / ... . .-.. .- -- .- - / -.. .- - .- -. --. / -.. .. / .... .- .-.. .- -- .- -. / ... .- -. --. --. .- .-. / .--. .-. .. -. --. --. --- -.. .- -. .. .-.-.-

Senin, 25 Desember 2017

🏕🏕 KEJEBUR KESURUPAN SIMFONI ALAM (PW ASPAC 1978) ⛺⛺⛺⛺

Inilah Desa Pramuka Satu-satunya di Indonesia - JPNN.COM
1. KEJEBUR SUNGAI
Dalam kegiatan Perkemahan Wirakarya Asia Pasific I tahun 1978, Paman Gober (aku Uber Suhartono) dan tim, ditugaskan sebagai petugas PPPK dan bergabung dengan Palang Merah Remaja dari Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Malang, dimana tugasnya pada umumnya hanya memberikan pertolongan awal atau pertolongan pertama sebelum si penderita di tangani Paramedis dan Dokter, akan tetapi kali ini tugasnya justru lain, yang malah membuat tim harus spot jantung, jantung seakan meledak-ledak.

Begini ceritanya : 
Disaat para Pramuka selesai melaksanakan Bhakti Sosial, sekian ratus Pramuka kembali ke tenda masing-masing, perjalanan pulang ke tenda harus melewati Jembatan Gantung yang terbuat dari bambu. Melewatinya harus bergantian, dengan harapan jembatan tidak ambruk/ambrol, akupun dengan tim petugas PPPK bersiap-siap di seberang jembatan, barangkali (kemungkinan) menemui hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Tidak lama aku jaga disana tiba-tiba terdengar suara byuurr !!!, semua yang di sekitar jembatan pada kaget, apa yang terjadi.....?

Tenyata anak yang katanya bernama Sholichin, terjebur kesungai  semua terheran-heran melihat dari atas si Sholikin timbul tenggelam dengan ketawa-ketawa, aku menganggap bahwa dia terganggu jiwanya atau jiwanya sedang labil, melihat keadaan seperti itu maka Pembina yang dibantu Penegak yang lain menaikkan Solichin keatas dengan paksa. Kami tim PPPK sudah siap untuk menolong, kemudian dibawa dengan tandu ke pos. Sesampainya disana dia justru meronta-ronta dan berteriak "Aku ingin bertemu dengan Tuhan !!!" dengan pandangan mata nanar. Melihat hal semacam itu hati ini ciut juga. Aku tidak putus-putusnya berdo'a. Memohon perlindungan dan tuntuna-NYA.

2. KESURUPAN 
Dari cerita penduduk setempat, dikatakan oleh mereka, bahwa lokasi untuk bhakti sosial adalah tempat angker, jadi tidak salah kalau si Sholichin kesurupan. Aku sebagai Ketua Tim PPPK seperti kebakaran jenggot, betapa tidak, dia makin berulah meminta bertemu Tuhan....., dengan nada keras dan marah, situasi seperti ini aku tidak habis²nya berdo'a dan berdo'a. Mohon perlindungan dan petunjuk untuk dapat mengatasinya, aku yakin dapat mengatasi, karena pada hakikatnya manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna, masak kalah dengan jin atau setan, inilah yang membuat aku se-akan² mendapat suplemen. Akhirnya aku dan dia terjadilah dialog.
Kedua tanganya aku pegang, seperti layaknya kedua orang yang sedang bersalaman.

"Siapa namamu ayo ngaku". kataku.

"Namaku Antonius, mau apa kamu" jawab dia (Solichin).
Aku baru sadar bahwa dia menyebut nama yang bukan namanya.

"Pulang kamu !!, tempatmu bukan disini, kalau kamu tidak mau pulang, akan aku siram mukamu dengan air ini", gertakku, dan kebetulan aku sudah siap dengan air putih ditangan.

Rupanya dengan aku gertak dia tidak takut, dia malah memandang dengan pandangan mata yang nyaris tinggal putih saja, aku sempat goyah, bingung, dalam situasi seperti ini hati kecil ini seperri berbicara _bawa dia ke gereja_demikian, aku jadi bertambah bingung, seumur-umur aku tidak pernah masuk gereja, tetapi apa boleh buat, kalau ini jalan terbaik dan dia bisa sadar tetap harus dilaksanakan. Kemudian dengan tandu dan kaki tangan diikat dia dibawa ke gereja ramai-ramai. Sesampainya di gereja dia dan para Pramuka lainya duduk di kursi jemaat, sedang aku berdiri di dekat mimbar layaknya pengkhotbah.

3. DIIRINGI SIMFONI ALAM
Kemudian aku mulailah berceramah sesuai dengan kemampuan, untuk memberikan jawaban pada dia, bahwa pada hakikatnya semua umat di dunia mengakui ke Esaan Tuhan dan Utusan-Nya, dan semua hamba hukumnya wajib menyembah Tuhan sesuai dengan syariat agama masing-asing yang dianut. Semula dia padangan matanya nanar dan tampak bengis, tetapi kali ini dia menundukan kepala, se-akan setuju dengan ucapanku. Suasana saat itu terasa khitmad, dari luar terdengar angin sepoi-sepoi, menyusuri daun-daun niyur dan menghampiri rumpun bambu yang menimbulkan gesekan suara yang berderit, seakan-akan bagai symponi indah mengiring perjalanan anak manusia dalam mencari jati dirinya.  Melihat gelagat seperti itu aku ceramahku terhenti, dan aku hampiri dia sambil  mengulurkan tangan dan bertanya siapa namamu diapun menjawab dengan nada rendah namaku Sholichin .

Alamdulillah akhirnya dia sadar. Kemudian dia mengarahkan pandangan ke seluruh ruang gereja dan dia melihat simbol agama yang berada di dinding, dia bertanya Mengapa aku berada disini.... ?. Pertanyaan aku jawab Ceritanya panjang, sekarang kita kembali ketenda saja untuk istirahat.
Dan semua kembali ke tenda masing-masing.

Demikian cerita apa adanya, ternyata itu adalah awal adanya peserta PW. Aspac yang kesurupan, selama aku bertugas disana dua minggu peserta  kesurupan yang aku tangani ada 12 (dua belas) orang peserta. Bahkan saat aku sedang pentas kesenian (peran dalang), di susul karena ada peserta yang sedang kesurupan, dan kontan saja walaupun pentas belum berakhir. Terpaksa harus aku sudahi, untuk menolong yang kesurupan.

Pengalaman pahit ini masih tergores dalam ingatan. Dari Desa Leakharjo arah ke timur bila  malam tiba tampak  lava Gunung Semeru meleh kebawah dan sungai Glidik yang melintas desa Lebakharjo jalan lahar dari gunung Semeru. 

Dan ternyata konon ceritanya desa Lebakharjo tiap kali ada kegiatan Daerah, Nasional pasti hujan walaupun bukan musim hujan, dan ironisnya pasti ada peserta yang kesurupan,  maaf ini bukan hoax (sumber cerita dari penduduk setempat). Bisa di tanyakan kepada mbah google.
Hal ini di kaitkan daerah itu adalah desa terisolir sejak awal desa itu ada, puluhan tahun, setelah dipilih sebagai lokasi (event) tingkat dunia, banyak pohon-pohon besar yang ditebang potong, (mungkinkah ini yang menjadi penyebab...? katanya pohon-pohon itulah yang menjadi tempat makhluk halus). Wallahualam bisawab.

Sehubungan dengan hal diatas, pada hakikatnya merupakan pembelajaran buat aku dan teman-teman lainya, dan ternyata itu semua menjadikan dorongan semangat kita untuk lebih meningkatkan iman dan taqwa.

Itupun kalau aku dihubung-hubungkan dengan pengalamanku yang menangani selama dua minggu ada 12 orang Pramuka kesurupan, sampai-sampai aku mendapat gelar DUKUN, saksinya ada, beliau anggota grup Forum Aktifis Pandu Ngalam Kak. Nenny Sukarti. Sebutan itu membuat aku malu, rasanya aku saat itu ingin lari melepas tanggung jawab, aku emoh disebut dukun apalagi menjadi dukun, tetapi mungkin. Dwi Dhama saat aku masih Siaga sudah mendarah daging ...? Siaga itu berani dan tak putus asa.

Percaya gak percaya aku ngetik mrinding. Tetapi aku yakin suatu saat nanti desa Lebakharjo menjadi desa indah dan asri "Gemah-ripah loh jinawe", jauh dari gangguan hal² diatas, penduduknya sejahtera dan guyub rukun._.
Semoga dan semoga.
Aamin Ya Robaal alamin

Dituturkan oleh :
Kak Uber Suhartono (pelaku PW Aspac I 1978; aktifis Pramuka Malang Kodya; member Forum Pandu Ngalam)

🍃 DESA YANG TERPENCIL (PW ASPAC 1978) 🍃

Desa yang subur banyak ditumbuhi kebun nanas dan kelapa dan sayur mayur yang melimpah ruah, tetapi para petani tidak dapat menikmati hasil panen secara maksimal, karena aset jalan untuk memasuki desa tersebut hanya jalan setapak menyusuri gumuk (bukit) yang terjal dan curam,  Agar desa yang terisolir, masyakat desa seringkali mengadakan kerja bakti bergotong royong membuat jalan dengan istilah Gugur gunung itulah desa Lebakharjo, Kecamatan Ampel Gading, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur.

Tidak tahu bagaimana ceritanya Organisasi Kepanduan Internasional memilih desa Lebakhajo sebagai lokasi Perkemahan Bhakti Pramuka semenjak tahun 1970. Tercatat tiga event Pramuka tingkat dunia pernah di gelar didesa yang di kelilingi perbukitan yang terjal dan curam ini, yaitu :
  1. PW ASPAC I (The First Asia Pasific Community Service Camp atau Perkemahan Wirakarya Asie Pasifik ke-1), pada tanggal 18 Juni 1978 hingga 29 Juli 1978.
  2. Lomba Penataan Pemukiman oleh Pramuka tingkat dunia atau yang dikenal dengan World Scout Competetion on Habitat. lomba itu digelar bersamaan Perkemahan Wirakarya dan Perkemahan Bhakti Kabupaten Malang pada tanggal 17 Juni 1989 hingga 7 Juli 1989.
  3. Comdeca (The First World Community Development Camp), kegiatan Perkemahan Wirakarya Dunia yang di gelar pada tanggal 26 Juli 1993 hingga 8 Agustus 1993. Negara yang ikut ambil bagian antara lain : Indonesia, Afrika Selatan, Canada, Portugal, Kuwait, Maladeva, Bangladesh, Singapura, Malaysa, Arab Saudi, Hongkong, Philipina.


Pada Perkemahan Wirakarya Aspac I ditahun 1978 tersebut dilaksanakan pembangunan jalan tembus Lebakharjo menuju pantai Licin, membangun tempat ibadah, Pasar Desa, Balai Pengobatan, Terminal Desa, selain pembangunan fisik, kegiatan non fisik yang dilaksanakan Pramuka Racana IKIP Negeri Malang pemberantasan buta huruf. Kini desa Lebakharjo oleh Gubernur Jawa Timur Soekarwo dicanangkan sebagai Desa Pramuka pada tahun 2010.
Dengan event-event diatas warga masyarakat dapat menikmati hasil nyata sejak tahun 1978 antara lain jalan aspal hotmix dan listrik. Dan yang tidak kalah pentingnya persaudaraan, kekeluargaan, kerukunan, dan kegotongroyongan akhirnya mengilhami kehidupan masyarakat Lebakharjo sehari-hari.                        

Dituturkan oleh :









Kak Uber Suhartono (pelaku PW Aspac I 1978; aktifis Pramuka Malang Kodya; member Forum Pandu Ngalam)